Pages

27.1.13

Teman-Teman, Mari Kita Move On


Ada seorang temenku yang punya masalah perkara cinta, anggap aja nama temenku itu Nani. Jadi dia punya pacar, namanya (misal) Joko. Joko mutusin Nani dan pacaran sama cewek lain, yang notabene adalah sahabatnya Nani.

Kejadian putus itu terjadi sekitar 7 bulan yang lalu. Tapi sampai sekarang Nani belum bisa ngelupai Joko. Dia selalu curhat sama aku dan bilang kalau dia masih sayang sama Joko. Ironisnya, Joko masih aktif ngontak dia. Alhasil, semakin sulit bagi Nani untuk melupakan Joko.

Nani jadi hobi ngirimin SMS yang (sumpah!) nggak jelas banget! Contohnya dia SMS kayak gini: “I hope you say it, that you love me more than anything.” Lah? Joko kan udah mutusin dia, tandanya memang sudah nggak ada cinta lagi. Pernah juga dia SMS, “Transformer, film pertama yang kita bahas.” Gila! Nih update status ato gimana sih? Kalau lagi facebook-an sama aku, dia juga masih sering buka profile si Joko.

Hanya ada satu pertanyaan buat Nani: niat nggak sih ngelupain Joko?!

Memang ada beberapa faktor yang membuat kita sulit move on. Misalnya karena kita terlalu nyaman sama dia, sehingga kita menganggap tak ada orang lain yang sama kayak dia. Ujungnya, kita malah males kenalan sama orang baru.

 

Kedua, teknologi yang terlalu canggih. Asik main twitter, tiba-tiba tweet dia masuk timeline kita. Kita jadi keinget dia lagi, deh...

Faktor lain adalah kita punya banyak kenangan sama dia. Hubungan yang terlalu lama membuat segala hal terasa ada hubungannya sama dia.

Kegiatan masih mengharuskan kita untuk ketemu sama dia? Ini juga sulit. Apa daya kita untuk melupakan dia kalau tiap hari kita masih harus ketemu dia?

Dengan faktor-faktor demikian, melupakan adalah hal yang sulit. Tapi bisa jadi nggak sulit kalau memang kita niat melakukannya. Misalnya dengan mempersibuk diri. Belajar lebih giat, rajin ikut tambahan pelajaran di sekolah, belajar masak, baca novel dan komik, jalan-jalan, dan sediakan waktu untuk me-time.

Cara ampuh lain adalah hapus dia dari gadget kita. Buang semua SMS dan email dari dia. Kalau perlu sekalian aja hapus nomernya dari phonebook kita, atau hapus kontak BBM-nya sekalian. Jangan lihat profile facebook dan twitternya! Dosa besar!

Adele dan Bruno Mars emang punya lagu yang keren-keren. Tapi pada saat-saat seperti ini, ada baiknya untuk tidak mendengarkan lagu mereka dulu. Takutnya nanti kita malah tambah galau. Dengarkan genre musik yang berbeda. Metal-nya Avenged Sevenfold misalnya.

 

 

Curhat, curhat, curhat! Teman dan sahabat kita adalah tempat curhat paling enak sedunia. Perasaan pasti terasa lebih ringan.

Cowok nggak cuma dia seorang! Bersegeralah kamu mencari gebetan baru.

Cara apapun yang kita lakukan untuk melupakan dia nggak bakal berhasil selagi kita masih hobi menghubung-hubungkan segala hal dengan dia. Niat dari hati, guys, bukan dari bibir!

Regards,
Mel

When We Meet a Heartbreaker Guy, We Should...


This is about love. Yep, that love. Cinta yang itu... Simple but real, a heartbreaker guy...

 

Nggak tahu gimana sejarahnya, tapi cowok-cowok heartbreaker ini memang selalu kelihatan lebih oke dari pada cowok-cowok yang nice and good. Mereka lebih cool dan (sumpah!) charming banget! Mereka seakan punya daya tarik tersendiri, yang pastinya bikin cewek-cewek klepek-klepek.

Cowok heartbreaker tampil dengan gaya oke, kepribadian menarik (lucu, humoris, supel dan nggak gampang canggung), serta bikin cewek gemes. Mereka membuat tren mereka sendiri dan tahu gimana memperlakukan cewek. Mereka juga menantang bagi sebagian besar cewek, sehingga cewek manapun yang jadi pacarnya pasti bangga. Banyak juga alasan lain yang bikin cowok heartbreaker dipuja-puja, misalnya karena cowok heartbreaker nggak jaim, sulit ketebak (sehingga bikin sang cewek penasaran), pintar memanjakan cewek, dan sifatnya cowok banget!

Jadi pacarnya seoarang heartbreaker mewajibkan sang cewek untuk punya kesabaran layaknya seorang ibu yang punya anak durhaka. Jelas sekali bahwa sang cewek nggak boleh marah saat melihat cowoknya deket sama seorang cewek (karena memang itulah sifatnya cowok heartbreaker). Kebanyakan marah (apalagi kalau menunjukkan sifat jealous yang berlebihan) justru membuat sang cowok pergi. Udah nggak kuat lama-lama pacaran? Putuskan saja. Stop hurting yourself! Buat apa survive sama orang yang membuat kita sakit hati?

Selain cowok heartbreaker, aku punya satu pertanyaan. Apakah seorang heartbreaker itu juga termasuk playboy?

Dari ciri-ciri diatas, playboy adalah heartbreaker, tapi kayaknya heartbreaker belum tentu playboy. Kenapa? Aku ambil contoh simpel dari kehidupan nyataku. Aku naksir cowok yang punya segudang cewek yang memuja-muja dia, tapi dia nggak tahu kalau dia itu punya banyak penggemar. Anaknya mungkin baru pacaran sekali (aku sendiri kurang ngerti). Dengan sifatnya yang easy going dan nggak pernah serius kalau perkara cewek, banyak cewek yang naksir dia terpaksa mundur. Ini karena dia nggak pernah ngasih tanda-tanda kalau dia juga naksir cewek itu. Artinya, dia adalah seorang heartbreaker, walaupun dia sendiri nggak sadar dia udah nge-break banyak hati cewek. Sedangkan playboy, dengan sikapnya yang gonta-ganti cewek, udah pasti dia adalah seorang heartbreaker.

Intinya, playboy adalah heartbreaker, sedangkan heartbreaker belum tentu playboy.

Nah, sesuai sama judul diatas, when we meet a heartbreaker guy, what should we do??

Jika aku dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu, aku akan jawab: survive atau putus! Aku bakal tetep survive, bertahan sama dia, hanya kalau aku yakin aku memang bisa bertahan kalau aku terus pacaran sama dia. Tapi aku bakal mutusin dia, kalau memang aku tersakiti dan aku nggak mau menyakiti diriku sendiri dengan memaksakan hatiku tetap bersama dia. Woy, cowok nggak cuma dia seorang!


Get it, gals?

Mel

Life is Too Short To Make a Stupid Choice

Kapan hari aku baca koran. Di cover paling depan ada gambarnya suporter bola tawuran. Tapi judulnya bikin aku mau nangis. Suporter bola meninggal. Mending kalau cuma satu, tapi ini ada empat (atau mungkin lebih) dan belasan orang luka-luka (ringan ataupun berat).


Yang bikin itu lebih menyakitkan adalah mereka meninggal karena tingkah mereka yang memalukan. Mereka naik ke atas gerbong kereta api (perjalanan dari Bojonegoro ke Surabaya). Dua diantaranya kena  palang kereta, satu jatuh, satu lagi kecantol kabel telepon. Dan mereka meninggal dalam kondisi yang mengenaskan. Belasan luka-luka karena tawuran di Lamongan, bahkan ada yang meninggal (atau luka parah, ya? Aku agak lupa) karena kena lemparan benda keras di kepalanya. Ironisnya, banyak korban yang umurnya di bawah tujuh belas tahun.


Sampai sekarang aku nggak ngerti jalan pikiran mereka. Aku juga ngefans fanatik sama Justin Bieber, Selena Gomez, Taylor Swift, Jessie J, David Archuleta, bahkan band metal Avenged Sevenfold dan banyak lagi. Dan saat mereka manggung di Jakarta, aku yang berdomisili di Surabaya biasa aja tuh walaupun nggak bisa nonton mereka. Masalahnya, kenapa mereka bisa lebay banget sampai bela-belain ke Bojonegoro dan menyebabkan kematian terhadap diri mereka sendiri.

Istilahnya begini. Aku nggak bisa nonton penyanyi favoritku karena memang nggak tahu gimana caranya bisa sampai di Jakarta. Mungkin gampang, naik aja kereta. Tapi pas udah sampai di stasiunnya, aku harus gimana? Nah, lo! Aku nggak tahu perkara itu. Lagian tiket konsernya mahal. Aku pasti seneng banget kalau bisa dateng. Tapi jelas aku harus minta uang sama ortu. Perkaranya, aku nggak enak minta uang buat hal yang nggak penting kayak gitu.

To the point aja. Kalau memang nggak punya transport (atau uang untuk biaya transport) kenapa harus memaksakan dateng ke Bojonegoro? Toh di TV juga ditanyangkan pertandingan itu. Kenapa harus pakai transportasi yang berbahaya? Kenapa nggak bawa motor sendiri aja? Emang sih berpotensi ambeien, tapi jelas lebih aman, kan (yang ini khusus buat yang udah ada SIM)!

Aku pernah pulang malem karena ada deadline pembuatan majalah sekolah. Kebetulah aku pemimpin redaksinya. Sama kakak kelasku yang udah SMA, aku dianterin pulang (padahal rumahku jauh banget). Sampai di rumah, dia salaman sama ortuku dan langsung pulang karena pas itu emang udah malem. Papaku langsung bilang, “Jarang ya ada cowok SMA kayak gitu. Jaman sekarang kan ABG pada ngira dia nggak bisa mati. Makanya tingkahnya aneh-aneh.”

Sekarang aku jadi ngerenungin sendiri kata-katanya papaku. Ada benernya juga. ABG jaman sekarang bertingkah seolah mereka nggak bisa mati. Padahal tingkah mereka berpotensi menyebabkan mereka mati.

Anehnya, mereka ngaku mereka udah gede, tapi otaknya sama sekali kolot. Kenapa tidak berpikir rasional? Apa mereka segitu bodohnya sampai nggak tahu kalau naik ke atas gerbong kereta itu bahaya?

Semua hanya berawal dari satu kata: biasa aja, dong! Mereka tetap bisa jadi fans tim bola tanpa harus melakukan itu semua. Mereka bisa tetap mendukung timnya tanpa harus datang ke stadionnya. Tinggal liat TV aja di rumah, dan berdoa. Adekku salah satu contoh nyatanya. Selagi pertandingan itu ada di TV, dia nggak bakal dateng ke stadionnya. Kalau ada di luar kota, dia cukup lihat dari TV atau dengerin radio. Kalau tidak ditayangkan di TV dan nggak diliput di radio, sementara pertandingan itu ada di Surabaya, adekku baru nonton. Tapi kalau nggak ada di Surabaya, dia beli koran besok paginya.


See? Adekku yang masih 11 tahun aja ngeh, padahal dia juga sama fanatiknya. Kenapa cari yang ribet kalau ada simpelnya? Kenapa cari capek, kenapa cari bahaya, kenapa cari mati? Di sisi itu, ada pilihan lain yang justru harus di lirik.

LIFE IS TOO SHORT. THERE’S MANY CHOICES, BUT THERE’S NO STUPID CHOICE. YOU MAKE YOUR OWN CHOICE..

Mel, with love

Aduh, Goblok!!

Oh, judul di atas kok sadis banget, ya?


Well, jadi begini. Di suatu ada pertandingan bola antara Persebaya Surabaya dengan Persibo Bojonegoro. Sialnya, Persebaya kalah!! Aduh, agak sebel gimana gitu...


Tapi bukan topik itu yang mau aku angkat. Pas tadi Persebaya kebobolan, adekku spontan bilang, “Aduh!! Goblok!!” Aku agak kaget. Pasalnya, adek cowokku itu adalah tipe cowok manis dan nggak bakal ngomong kasar. Yah, walaupun tadi dia hanya mengumpat pelan sih...

Apa sepak bola itu juga bisa mengubah orang, ya? Adekku, misalnya. Kadang kalau emang lagi sebel banget baru dengan ngumpat-ngumpat begitu. Tapi kalau cuma sekedar bola? Masa sampai ngumpat-ngumpat segala??

Pasti nggak ada yang nggak tahu kalau Persebaya punya fans fanatik namanya BONEK alias Bondo Nekat (artinya berbekal nekat). Dari banyak temenku, nggak jarang yang mengklaim kalau mereka itu bonek. Yang aku tahu dari pengamatan sehari-hari, ada beberapa jenis bonek. Pertama, bonek manis yang ngefans Persebaya, tapi nggak terlalu fanatik dan bisa membatasi atau memproteksi dirinya dengan baik. Kedua, bonek yang fanatik abis sama Persebaya, rela ngorbanin apapun buat tim kesayangannya, tapi nggak mengikuti arus negatifnya. Ketiga, fanatik sama Persebaya, rela ngapain aja buat Persebaya (contoh relevannya adalah naik ke atas gerbong kereta), dan bisa terseret arus negatif dari bonak-bonek lainnya yang kebanyakan berasal dari orang-orang yang punya kehidupan keras jalanan.

Aku bukannya mau ngejek atau gimana. Pas papaku cerita asal usulnya nama Bonek, aku jelas salut. Karena itu ada hubungannya sama peristiwa 10 November jaman dulu (nggak perlu diceritain, kan?). Tapi apa yang terjadi saat ini adalah bukti nyata bahwa istilah bonek sudah disalahartikan. Kita boleh ngefans sama tim favorit, tapi jangan sampai aksi kita membahayakan banyak orang, bahkan diri kita sendiri. Konvoi nggak jelas, ngerusak bis tim lawan, sampai rela keluar kota dengan numpang gerbong kereta! Jelas! Jelas sama sekali bukan cara ngefans yang sehat.

Kenyataannya, bonek dikuasai sama cowok-cowok yang kehidupannya keras. Maaf sebelumnya, tapi nggak jarang dari mereka yang ngumpat-ngumpat sembarangan hingga memperngaruhi orang lain disekitarnya. Mungkin dari mereka merasa bahwa dengan ngumpat (alias ngomong yang kasar-kasar) akan membawa kelegaan tersendiri. Tapi kita lihat apa reaksi orang-orang yang berideologi berbeda dari mereka. Orang itu pasti berpikir, “Nih orang sopan amat, ya?”

Aku nggak bisa komen apa-apa. Kenyataan yang ada adalah bahwa bonek itu banyak dan sudah terlanjur punya cap jelek dari banyak orang, bahkan aku sendiri. Kadang, kalau ada yang nge-add facebookku dengan nama yang berembel-embel “Bonek”, dengan otomatis bakal aku abaikan. Begitu juga kalau ada yang nge-follow aku di twitter. Nggak jarang aku buka facebooknya temenku dan lihat statusnya yang nggak jelas dengan banyak omongan kasar. Kadang ditujukan buat pacar, temen, guru, dan yang lebih membuat aku marah adalah hal itu ditujukan kepada orang tua.


Intinya, aku nggak mau jelek-jelekin si bonek itu. Kalau memang mereka mau hidup dengan cara demikian, silakan. Yang jelas jangan buat yang baik jadi buruk. Kalau bisa, tolong yang baik-baik segera membaikkan mereka yang buruk. Mungkin ngefans sama tim bola itu adalah passion, tapi kalau berlebihan juga nggak sehat, apalagi dengan acara ngumpat-ngumpat segala. Bisa jadi tim yang difavoritkan itu justru nggak suka dengan cara fansnya menunjukkan kekaguman mereka. Batasi diri dengan baik. Cara paling efektifnya adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Ketenangan dari Tuhan itu nggak ada tandingannya, loh.

See? Jadi fans itu harus selalu mengekspresikan kekaguman mereka dengan cara-cara yang baik dan kreatif. Mungkin ngumpat itu tren, tapi itu nggak bagus. Lebih parahnya lagi kalau yang difavoritkan justru benci sama fansnya karena fansnya nggak bisa menjaga mulutnya. Cari cara yang kreatif: bikin grup di facebook, nobar di kafe, bikin acara khusus fans bola dengan biaya administrasi yang sangat sangat minim. Dengan begiitu yang ikut juga banyak. Kalau biaya administrasi yang terkumpul banyak, lumayan kalau di kasih ke panti asuhan. Semua dapet pahala, kan??

Who always with you,
Mel

Self Esteem and Positive Thinking


So glad I can write something here!! Have a nice day??

So, karena ini udah larut malam, maka dengan sangat ngantuk aku mau nge-share apa yang terjadi denganku pada suatu hari di dunia SMP. Hari itu adalah hari yang cukup berat. Pertama, aku bangun kesiangan (jam setengah 6 pagi!! Padahal aku sudah harus berangkat sekolah jam setengah 6!), untungnya masuknya nggak telat. Kedua, jadwalnya senam gembira. Sayangnya kondisiku lagi nggak gembira sama sekali. Alhasil, aku jadi nggak bisa menikmati senamnya. Ketiga, aku harus mengulang ujian elektroku! Padahal nilainya cuma kurang 5 poin aja!!!

Pulangnya, aku naik angkot (jarak rumahku ke sekolah sekitar 11 km. Bayangin kalau naik angkot dalam perjalanan kayak gitu, tipa hari, dengan matahari yang setia menyengat Surabaya!). Seperti biasanya, dua sahabat setiaku pas naik angkot, Sandy Naufal dan Agung Revianto (aku namakan geng ini The Bemo’s Soulmates. Bemo is Surabaya’s angkot, anyway), menemaniku pulang dan membuat saat-saat pulangku yang harusnya bahagia (karena kasur dan kebebasan sekolah serta ocehan guru) menjadi penyumbang ide menulisku saat ini.

Memang kalau aku mosting apapun ke blog ini selalu berdasarkan pengalaman pribadiku tiap harinya. Nah, ada omongannya Agung dan Sandy yang sebenernya agak bikin aku gimana gitu... Tapi aku nanggepin biasa aja (selalu stay cool)

“Mel? Matamu kekecilan tahu. Udah nggak ada tempatnya. Kepake buat badan semua,” kata si Agung.

“Tumbuh ke atas, Mel. Nggak ke samping,” timpal Sandy.

“Iya, Ndut...”

Nggak tahu kenapa, ya. Kalau ada yang manggil aku “gendut” aku tuh selalu biasa aja. Tapi kalau aku dibilang pendek, biasanya baru aku nimpuk tuh orang. Mungkin karena I’m a CUEK person, jadinya nggak pernah merhatiin badan. Mau gendut mau kurus, nggak peduli. Cuma kalau masalah tinggi badan, aku pengen banget tinggi. Impianku sih ngalahin tinggi badannya adek cowokku (dia lebih tinggi loh daripada aku, padahal di ADEKKU!). Jadi kalau ada yang bilang aku pendek, aku selalu bilang, “Someday I’ll be big enough so you can’t hit me...” sesuai sama lirik Mean-nya Taylor Swift. Atau aku bakal bilang, “Eh, Sandy. Kamu harusnya bersyukur bisa kenal aku. Kamu pernah nemu anak yang tumbuhnya selalu ke samping nggak pernah ke atas? Nggak, kan? Nanti kalau dah SMA kamu kangen aku loh...”

Terus mereka ketawa barengan sama aku.

Nah, disinilah yang pengen aku bagikan ke kalian, Teens! Positive thinking dan selalu berpikiran positif. Sekarang udah banyak loh buku terapi berpikiran positif untuk meningkatkan kesehatan, kesuksesan, prestasi, dan lain-lain. Nah, kalau di sini aku bakal menerangkan tentang beberapa hal. Selain berpikiran positif, aku bakal ngebahas soal self esteem, dan gimana menanggapi orang yang bilang kamu itu buruk (dengan cara yang cool tentu saja).

Apa itu self esteem????

Self esteem itu seberapa tinggi kita menilai, menghargai, dan menghormati diri kita sendiri. Ingatkan kalau sugesti pikiran itu sangat berpengaruh pada citra diri? Artinya kalau self esteem kita tinggi, maka citra kita bakal bagus juga. Nah, sedikit nyambungkan sama berpikiran positif?

Kalau katanya Pak Mack R. Douglas dalam bukunya How To Win with High Self Esteem, ada 6 alasan kenapa self esteem kita nggak tinggi (yang satunya agak lupa. Sorry, guys).

PERTAMA: CITRA DIRI SELALU NEGATIF
Maksudnya begini, misalnya aja kayak aku. Aku gendut dan pendek (jangan salah! Aku cantik, loh) dan banyak yang ngejek aku. Sebenernya aku bisa menanggapinya dengan dua cara. Pertama, aku bisa menanggapi itu dengan marah dan bersungut-sungut. Aku balas mengejek dan menjelek-jelekkannya. Tapi sadarkah kita kalau itu adalah bentuk lain kalau kita membenarkan ejekan mereka terhadap kita? Kedua, aku bisa biasa aja. Malah narsis dan jaya dengan kekuranganku itu. Artinya, kita memberikan sugesti kepada pikiran kita kalau kita spesial bahkan dengan kekurangan itu.

KEDUA: KRITIK ORANG TUA TERLALU BERLEBIHAN
Ini sebenernya tanda sayangnya ortu. Tapi kan kadang kita mikirnya nggak kayak gitu, ya? Jadi menanggapinya cukup dengan, “Oke, Mah. Aku usahakan ya... Semoga aku bisa lebih baik.”

KETIGA: KRITIK TERHADAP DIRI SENDIRI TERLALU BERLEBIHAN
Jangan karena kita ada kekurangan, terus kita merutuk diri kita sendiri. Niatnya supaya lebih terpacu, tapi kalau berlebihan, itu hanya akan jadi racun buat kita. Buat kiritikan standar: tidak terlalu berlebihan agar kita tidak terlalu sakit hati, tapi jangan terlalu mudah supaya kita ada motivasi untuk maju.

KEEMPAT: DIBANDINGKAN SECARA BERLEBIHAN (OVER BENER!)
Sering banger nih aku dibandingkan sama sepupuku yang otaknya canggih bener. Katanya, “Tuh lihat. Sekarang udah masuk SMA favorit. Nanti kamu harus kayak gitu loh... Makanya jangan males-males dong, Mel. Kerjaannya main laptop aja. Bentar lagi ujian. Belajar dong...” Nah, kira-kira begitu ocehannya mamaku. Jawabannya, “Iyah... Gampang. Udah Mama tenang aja. Pokoknya aku minta doanya aja. Aku berusaha sekuat tenaga...” Ampuh!!

KELIMA: SEMUA ORANG PENGEN KITA PERFECT
Katanya Jessie J: Nobody’s Perfect! Makanya, kalau ada yang menuntut sempurna, jangan pernah dijadikan beban. Jadikan aja itu sebagai motivasi yang bisa kamu penuhi kapan saja sesukamu. Toh, Tuhan menciptakan aku seperti ini. Masalah buat loe?? Hhee... Katanya Izzatul Jannah, kesempurnaan itu ada prosesnya. Maka  tempatkan kamu di proses ini, bukan di akhirnya. See??

Kelimapoint diatas bisa dikalahkan hanya dengan berpikiran positif. Sugesti kita sangatlah penting dalam proses kehidupan. Hilangkan semua pikiran negatif (aku nggak bisa melakukannya. At least, aku berhasil melakukan ini terhadap diri sendiri. Misalnya pas tadi aku remidi ujian, aku bilang ke diriku sendiri, “Emang aku rada lemah di pelajaran ini. Nggak papalah, kalau nggak remidi nilainya jelek dong di rapor?" Ganti sama pikiran positif yang sifatnya membangun.


Nggak ada yang berhak ngatur hidup kita selain kita sendiri dan orang tua. Orang tua pun hanya berperan pada prosesnya, sementara yang menentukan pilihan adalah kita. Malu deh kalau hanya karena ejekan nggak penting, potensi kita justru tenggelam.

Hidup ini indah sekali, Teens!

Warm Regards,
Mel

When Galau Make You Feel Bad

Hi, teens. Gimana semangatnya? Masih bagus?

Tadi pagi ada temenku yang curhat ke aku perkara cowok. Jadi cowok yang dia taksir itu ternyata nggak suka dia. Dia juga baru tahu setelah cowok itu jadian sama seorang cewek yang juga adik kelasku.

Ada lagi yang cerita kalau dia belum bisa ngelupain mantannya yang jelas-jelas sudah bohongin dia sampai ke ubun-ubun. Jelas banget tuh cowok udah selingkuh sama sahabatnya sendiri. Pas aku bilang, “Udah ikhlasin aja. Silakan kamu jatuh cinta lagi,” dia malah bilang. “Aku nggak yakin aku bisa jatuh cinta lagi.”

Lain lagi sama yang ini. Dia suka sama cowok, tapi nggak pernah punya keberanian buat mengungkapkan perasaannya. Alasannya simpel: dia takut ditolak!! Waleh... Nih cemen namanya.

Ada juga nih yang lebih lucu. Udah lama banget suka sama cowok, tapi dia belum tahu tuh cowok suka sama dia atau nggak. Kasus ini menimpa aku loh *curhat dikit*

This is my story!! Aku juga suka sama cowok (sangatlah tidak normal kalau aku nggak suka cowok saat usiaku sudah 15 tahun!!) Bedanya aku sama temen-temenku hanya satu: mereka terlalu memikirkan sakit hatinya mereka dan merasa galau, sementara aku nggak!

Galau! Kata ini sudah sangat populer sekarang. Dikit-dikit bilang galau, dikit-dikit bilang bimbang. Apaan sih galau itu? Aku nggak mau kasih definisi galau berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ya. Tapi berdasarkan aku sendiri, galau adalah bimbang, gelisah, gundah, dan hal-hal sejenis lainnya.


Jadi kalau kita sambungkan sama kasus anak muda jaman sekarang (yang aku garisbawahi adalah perkara cinta remaja), galau kali ini bukan disebabkan karena masalah keluarga atau sekolah, tapi masalah pacar. Sakit hati karena putus, perasaan tergantung oleh orang yang dipuja, sampai cinta yang bertepuk sebelah tangan. Semuanya bikin galau sekarang!

Tiap kali buka twitter diatas jam sebelas malam, pemandanganku selalu sama. Timeline dipenuhi sama orang-orang yang cintanya tidak terbalaskan, berebut sudut untuk mencurahkan tragisnya kisah cinta mereka—yang rata-rata cintanya sudah terbuang oleh orang yang dipuja. Mulai dari quotes cinta, curhatan nggak jelas, sampai lirik lagu galau yang nggak jelas juga.

Pertama membaca, aku pikir mereka adalah orang yang teraniyaya karena cinta. Kasihan banget gitu... Tapi lama-lama aku mulai merasa ada yang dilebih-lebihkan.

Putus cinta itu hal yang lumrah dialami remaja. Aku bilang seperti ini karena sebagai remaja aku juga pernah patah hati—bukan putus cinta karena aku belum pernah menjalin hubungan cinta J.  Banyak seniman dapat inspirasi segar saat mereka lagi putus cinta. Taylor Swift, Lady Gaga, sampai Adam Levine yang nulis lagu saat galau.

Galau itu nikmat! Berkali-kali aku bikin kata-kata itu untuk status facebook. Sedih, bikin nangis, tapi semua pasti setuju kalau galau itu bikin ketagihan! Kenapa? Pas galau berarti kita lagi bimbang dan bingung. Akhirnya kita berusaha bikin fantasi-fantasi tentang segala kemungkinan yang bisa jadi jalan keluar atas alasan kita galau itu. Namanya juga manusia, berfantasi adalah hal yang bikin ketagihan!

Wajarlah galau karena dia yang kita cintai. Saat ia jauh dan kita nggak bisa melihatnya, kita galau. Saat ia tak juga mengirim SMS atau nge-BBM, kita galau. Saat tingkahnya aneh, kita galau. Intinya, galau bagi remaja adalah bukan hal aneh alias wajar! Yang nggak wajar adalah kalau kita menganggap kebahagian kita hilang seiring hilangnya dia, atau kalau kita menganggap kita nggak bakal bisa mencintai orang lain seperti kita mencintai dia. Hellooooo, jodoh nggak bakal kemana. Walaupun itu quotes lama, tapi aku tahu itu benar!

Wake up and let’s move on, Teens!!! Berharap sama seseorang itu boleh. Yang nggak boleh adalah kita terus berpikir kalau mereka juga memikirkan kita disaat kenyataan mengatakan hal yang berbeda. Jangan hanya berendam di kubangan kesedihan saat ia pergi meninggalkan kita atau karena ia sudah jarang kelihatan. Belum tentu ia memikirkan kita sesering kita memikirkan dia!

Coba pikirkan secara rasional dan realistis! Kalau dia memikirkan kita—atau minimal peduli dengan kita—ia akan memberikan kita kabar dan menanyakan kabar kita, bukan pergi seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Silakan galau saat kalian mengalami masalah cinta, tapi nggak perlu sampai berlarut-larut. Galau itu memang nikmat, tapi kalau berlebihan hanya akan menjadi racun bagi hati kita. Mario Teguh bilang, kalau kalian sakit cinta, jangan pernah melupakan orang yang membuat kalian sakit. Karena dalam proses melupakan, kalian harus mengingat terlebih dahulu. Alternatifnya adalah mengikhlaskan mereka dan jatuh cinta lagi.

Biar aku curhat sedikit disini. Aku suka sama cowok. Namanya nggak aku sebutkan, ya... Takutnya dia baca tulisan ini... Jadi kita sering bareng-bareng. Kata orang jawa itu “witing tresna jalaran saka kulina”. Artinya: cinta itu tumbuh dari kebiasaan. Bener sih, aku sama dia emang terbiasa bareng. Cuma dia itu anaknya susah ditebak. Sikapnya ke aku biasa aja. Tapi kadang ada saat-saat dimana dia bikin aku kayak melayang di udara gitu. Pokoknya dia memang bikin aku bingung karena sikapnya. Temen-temennya sih bilang dia juga suka sama aku, tapi jelas dong aku nggak percaya sebelum dia sendiri yang bilang.

Nah, kenapa aku nggak pernah bilang aku suka dia alias nembak? Memang cinta itu harus diutarakan sebelum membusuk tidak terpakai. Tapi semua kembali pada prinsip masing-masing. Aku ini agak primitif, bagiku yang harusnya nembak itu cowok *iya, aku old lady banget*! Jadi aku pengen cowok yang berjuang buat aku. Tapi gimana aku menyikapi sikapnya dia yang bikin aku ngelayang nggak karuan itu? Being myself. Aku anaknya agak nggak ngeh sama urusan cinta—biasanya aku bisa memberikan saran cinta kepada temen, tapi nggak bisa mengaplikasikannya pada kehidupan cintaku sendiri. Hufh. Jadi caraku menyikapinya adalah dengan bersikap biasa-biasa aja.

Siapapun termasuk kita behak mencintai dan dicintai. Ayo, cari orang itu!! Jangan kelewatan galaunya.

Regards,
Mel

Anti Contek and The Bullies



Hello, teens!! Here’s Mel!!


Kapan hari sempet baca koran. Isinya perkara anak yang anti nyontek—mencontek atau menconteki. Timbullah satu pertanyaan sederhana. Pertanyaannya simpel aja: kok gini?
Biar aku uraikan. Disana tertulis anak anti contek itu:
  1.         Nggak punya temen
  2.         Dianggep sombong
  3.         Dianggep sok (sok pinter, sok jago, dan sok lain-lain)
  4.        Nantinya nggak bakal ada yang bantuin kalau dia lagi butuh bantuan
  5.         De-el-el...

Aku jadi mikir, kasian banget anak yang anti nyontek itu. Pertama, dia kayak dijauhin sama temen-temen, terus dikucilkan dan diasingkan dari dunia sosial, dan banyak perkara lainnya. Padahal kalau dia mau jadi anti nyontek kayak gitu kan pilihannya. Meskipun itu temen, bagiku adalah hal yang nggak sah kalau dia sampai mendiskriminasi orang yang anti nyontek. Toh, dia mau jadi apa juga pilihannya—termasuk kalau dia mau jadi anti contek.

Aku juga bukan orang yang anti nyontek. Aku nggak nyangkal kalau kadang ada dorongan untuk curang, termasuk pas ujian. Pengennya sih idealis, nggak nyontek. Kadang aku juga begitu sih... Nggak nyontek, tapi kalau ada yang tanya ya aku kasih tahu jawabannya. Meskipun begitu nggak jarang juga aku tanya jawaban ke orang lain. Bagiku itu lebih baik daripada full contek-contekkan. *lol

Intinya, orang yang anti contek itu jangan sampai terasing dari dunia sosial. Kita berpikir rasional saja. Mereka adalah mereka. Itu hidup mereka. Andaikata mereka nggak mau menconteki, ya sudah. Bukan hak kita memaksanya membagi jawaban. Mereka sudah belajar keras dan dengan seenaknya kita meminta jawabannya? Nggak semua orang mau... Kadang kalau suatu soal itu sulit banget dan ada yang tanya jawabannya ke aku, aku nggak bakal kasih jawaban itu. Apalagi kalau anak itu nggak mau bertanya jawaban ke anak lain, tapi mau membagi jawaban. Inilah tipeku (meskipun aku sering tanya jawaban ke anak lain juga, sih...). Jangan berpikir mereka sok pintar, tapi mereka sedang berusaha menjadi lebih baik dengan bersikap lebih idealis dan lebih jujur. Mending mana ngasih contekan atau minta sekaligus ngasih contekan?

Dear, Bullies... Siapapun dari kalian yang memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda adalah bullies. Bagiku menyiksa mentalnya dengan mengasingkan mereka dari dunia sosial adalah satu dari sekian banyak tindakan bullying. Tahu nggak kalau bullying itu tindakan kriminal?? Wew...

Ini namanya apresiasiku kepada anti menyontek!! Aku mendukung gerakan kalian. Tapi maaf ya, karena sampai sekarang pun aku masih belum bisa menjadi seperti kalian. Doakan aku akan menjadi bagian dari kalian supaya aku bisa menjadi pemimpin yang jujur kelak.

Regards,
Mel